Anak-anak muda putus sekolah di zaman sekarang kebanyakan enggan menjadi petani. Mereka lebih memilih profesi yang kelihatannya “wah” walaupun sebenarnya jenis pekerjaan yang ditekuni tidak lebih baik dari bertani.
Dalam artian, peluang petani meningkatkan pendapatan lebih luas dari pada, misalnya pekerja di sektor pariwisata, yang hanya menjadi satpam, room-boy, cleaner, driver, dll. yang tergolong pekerjaan pelayanan dengan imbalan tetap atau the fix income group.
Boom industri pariwisata yang menunjang kegiatan perekonomian di kota-kota sedang berkembang seperti Denpasar, Gianyar, dan Tabanan di era 1970-1980 telah merangsang derasnya aliran urbanisasi besar-besaran penduduk pedesaan dari seluruh Bali.
Kebanyakan mereka pindah ke Denpasar mencari pekerjaan-pekerjaan yang mudah, sehingga sedikit yang mau tetap tinggal di desa untuk bekerja sebagai petani. Bisa dipastikan bahwa mereka yang kini masih tinggal di desa, karena belum mendapat lowongan kerja di kota-kota besar.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa dalam Kitab Suci Reg Veda, profesi petani justru sangat diagungkan. Lihatlah Mandala I, Bab ke-5, Sukta 187.5:
TAVA TYE PITO DADATAS, TAVA SVADISTHA TE PITO, PRA SVADMANO RASANAM, TUVIGRIVA IVERATE
Wahai makanan yang lezat pemberi kehidupan, mereka yang mulia tidak hanya menikmatimu, tetapi juga memproduksi, dan membagikannya kepada orang lain. Sebaliknya mereka yang hanya menikmati cita rasa makanan saja adalah orang-orang yang sombong.
Selanjutnya lebih ditegaskan lagi dalam Reg Veda Mandala III, Bagian ke-5, Sukta 55.22
NISSIDHVARIS TA OSADHIR UTAPO, RAYIM TA INDRA PRTHIVI BIBHARTI, SAKHAYAS TE VAMABHAJAH SYAMA, MAHAD DEVANAM ASURATVAM EKAM
Tanam-tanaman hidup atas berkah-Mu. Air mengalir, dan bumi menyimpan harta bendanya. Semoga kami (para petani) dapat menjadi teman-Mu dan berbagi berkah ini, karena kemuliaan dan kedermawanan-Mu pada alam sangat agung dan tiada tara.
Masyarakat petani mempunyai himpunan kegiatan yang tidak pernah lepas dari pemujaan kepada Ida Sanghyang Parama Kawi karena mereka sangat tergantung dari alam, mulai dari tersedianya lahan yang subur, air yang cukup, cuaca yang memadai, terhindar dari penyakit dan hama tanaman.
Karena itu pula, mereka sangat mencintai alam sehingga selalu memperhatikan kelestariannya.
Upacara-upacara keagamaan yang berkaitan dengan kehidupan sektor pertanian berlangsung tiada henti, baik dalam skala kecil maupun besar, misalnya upacara-upacara: mulai menanam padi, menanam buah-buahan, menanam palawija, mulai memelihara ternak, mabiu kukung, panen dan menaikan padi ke lumbung, ngerasakin, ngusaba nini, ngusaba desa, segara kertih, wana kertih, nangluk merana, dll.
Kalender Hindu-Bali sebagian besar mengatur ala-ayuning dewasa dipandang dari sudut kehidupan petani. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa petanilah yang selalu ‘dekat’ dan selalu mohon perlindungan Tuhan dalam menunaikan pekerjaannya.
Hasil-hasil pertanian juga sebagai bahan pokok pembuatan sesajen atau banten. Unsur-unsur banten yakni: daun-daunan, buah-buahan, bunga, biji-bijian, hewan, semuanya dihasilkan oleh para petani.
Pekerjaan-pekerjaan di sektor pertanian selalu membutuhkan tenaga kerja yang banyak mulai dari menanam padi, palawija, memberantas hama, memanen padi, memetik cengkih, coklat, panili, buah-buahan, dll.
Ditambah dengan adanya organisasi Subak yang mengatur pembagian air dan juga adanya sekehe-sekehe manyi, maka terwujudlah sistim kerja gotong-royong yang kemudian membentuk pola kehidupan masyarakat pedesaan secara kekeluargaan seperti yang terungkap dalam peribahasa:
SAGILIK-SAGULUK SALUNGLUNG SABAYANTAKA, PARAS-PAROS SARPANAYA, SALING ASAH, SALING ASIH, SALING ASUH
Kehidupan petani memang penuh dengan kedamaian, persaudaraan, dan bhakti kepada Tuhan, Sang pencipta. Di abad ke-13-15, Bali pernah menjadi pengekspor beras, bahkan sampai ke Cina. Para pedagang dari Asia Tengah, dan Asia Tenggara berlomba-lomba membeli beras ke Bali, karena beras Bali terkenal pulen, harum, dan gurih.
Selain itu, buah salak, sawo, jeruk, manggis, mangga, dan wani dari Bali terkenal ke seluruh dunia. Mengapa kejayaan Bali tempo dulu kita lupakan? Hanya karena silau dengan dollar dan hiruk-pikuknya industri pariwisata?
Kita mengira ada kehidupan yang lebih menjanjikan, padahal sektor agraris sudah terbukti membawa kemakmuran pada rakyat. Bali bukanlah Bali jika tanpa pertanian. Tradisi beragama, budaya, dan pariwisata semua berpijak pada sektor agraris. Karena itu, mari kita kembali ke sektor agraris, sektor pertanian dalam arti luas.
Jangan biarkan tanah-tanah menganggur, juga jangan menjual tanah, jangan memandang rendah profesi petani. Mari kita benahi bersama agar pertanian menjadi menarik.
Pembenahan ini meliputi bidang-bidang; teknologi pertanian modern, sistem pemasaran, jaminan resiko gagal panen (crops insurance), dll. Bila kita bersatu padu membangun pertanian, pasti berhasil. Wujudkan Ajeg Bali melalui pembenahan sektor agraris.
Negara-negara lain seperti Thailand dan Phillipines, perekonomian nasionalnya tetap berbasis agraris. Pemerintah di Negara-negara itu sangat memperhatikan dan membela kepentingan petani. Berbagai bibit unggul telah dikenalkan oleh kedua Negara dan mendapat pengakuan dunia.
Pemerintah menjamin perimbangan antara harga bibit, pupuk, obat-obatan dengan harga hasil panen. Proteksi hasil panen dengan menetapkan patokan harga pasar terendah, terkadang dirasakan cukup berat oleh warga lain yang tidak bekerja di sektor pertanian. Tetapi itu sekaligus mendorong agar sektor pertanian tetap eksis.
Kita di Bali perlu mencoba mandiri dalam merancang tatanan sektor agraris. Masih banyak bidang agraris yang belum digarap dengan baik. Lihatlah potensi kelautan/ perikanan, potensi peternakan, pengolahan buah-buahan seperti anggur, salak, mangga, dan nenas. Hasil sayur mayur dan bunga-bungaan melimpah.
Alangkah mulianya bila krama Bali yang mempunyai modal kuat tidak berinvestasi hanya di bidang industri pariwisata saja. Lebih bagus dihimpun untuk disalurkan ke sektor agraris baik secara langsung atau mungkin melalui Koperasi Krama Bali, yang kini bangkit dan semakin berkembang.
Selain itu pakar-pakar kita di bidang teknologi pertanian, ekonomi pertanian, dan bidang pemasaran cukup banyak. Tinggal memanfaatkan mereka saja dalam suatu sistem management yang bernuansa Hindu-Bali.
Om A No bhadrah krattavo yantu visvatah.

Recent Comments